Pages

Friday, May 16, 2014

Salzburg (Austria trip part V, tamat)

2 Mei.  
Dari Erfurt memang kita udah rencanain untuk ngeluangin satu hari untuk berkunjung ke Salzburg. Mumpung ke Austria, kapan lagi bisa liat kota yang melatarbelakangi film The Sound of Music? Okta juga udah ngasih briefing pas malemnya, gimana caranya kita bisa sampe ke sana. 

Pagi itu kita bangun tidurnya kesiangan (agaaaiiin???!) bahkan Okta pun udah berangkat kerja. Wkwkwk, tamu macam apa ini, pemalas semua :))

Untuk ke Salzburg, kita perlu naik kereta dari stasiun West Bahnhof. Begitu sampe di halte trem, waktu udah nunjukin jam setengah 10, sempet shock berat karena tremnya puenuuuh banget. Heiyyalaah, ini  kan hari kerja. Tapi kita nggak punya pilihan, kereta Westbahn menuju Salzburg akan berangkat 20 menit lagi, kalo telat artinya kita mesti nunggu kereta berikutnya yang berangkat 1 jam kemudian. Ya salam, deg-degan banget.

Nyampe West Bahnhof kita masih clingak-clinguk. Kereta berangkat tiga menit lagi. Ini Vienna cuy, bukan Gondangdia. Jangan ngarep delay karena kereta Westbahn udah paling terkenal on time se-Vienna. Nyari peron, nyari lift (karena bawa stroller), gak nemu lift akhirnya nekat dorong strollernya naik eskalator (padahal ada sticker larangannya *jangan dicontoh ya*)

Saya sempet bingung karena kami belom pegang tiket, tapi Papipu bilang, "Udah gak apa-apa!! Buruan naik keretanya!" udah nggak tau lagi berapa kecepatan kami lari menuju peron hari itu, Sampai di deket kereta, pintunya udah hampir nutup. Bel peringatan kalo kereta mau berangkat sudah bunyi.. "Nit..nit..nit..nit.." 

Saat itu juga jari tangan saya mendarat di tombol pintu kereta yang hampir menutup, 
dan kami berhasil masuk!
Sambil ngos-ngosan. Banget.
Lalu tersenyum lega melihat pintu keretanya menutup di belakang kami. 
YES.

Kereta bergerak, kami baru sadar kalo sejak tadi ternyata seorang ibu kondektur ngeliatin kita bertiga. Dan terjadilah percakapan:

"Kalian mau kemana?"
"Salzburg"
"Gerbong stroller bukan disini" (kereta Westbahn punya gerbong khusus keluarga)
"Iya, kami tau. Kami kan buru-buru"
"Gerbong kelas II disana ya, disini kelas I"
(nahan ketawa)
"Baiklaaaaah, buuuuuuuu...!"

Nyiahahahaha, katingali pisan mereun nya, kalo kita jalan-jalan low budget?
Si ibuu, tau aja kita gak mau bayar tiket kelas I

Kereta Westbahn adalah milik swasta, jadi beli tiket di loket dengan di atas kereta harganya sama. Berbeda dengan Deutsche Bahn yang punya pemerintah, beli tiket di atas kereta harganya jadi lebih mahal dibanding kalo beli sendiri di mesin tiket. Mungkin karena diconsider kita pake tenaga manusia, jadi harus bayar jasa.

Perjalanan Vienna-Salzburg membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam. Harga tiket keretanya 23 Euro untuk sekali jalan /orang. Dharma gratis. Oh ya, perlu diingat untuk selalu bawa passport kemana-mana karena randomly suka ada petugas imigrasi yang pake pakaian layaknya penumpang kereta biasa.


Salzburg here we areee :)
Yang di stroller sampe ngambek ga mau difoto karena lafaaarrr!
Kita turis buta arah :) jadi sebelum keluar stasiun yang pertama dicari adalah peta! Bagusnya, walaupun Salzburg adalah kota terbesar ke-4 di Austria (setelah Vienna, Graz dan Linz) tapi kotanya nggak besar-besar amat, jadi masih bisa kemana-mana jalan kaki. Iyes, selama di Salzburg kita sama sekali ngga naik bis ataupun O-bus (bis yang pake jalur kabel elektronik kaya trem). Tapi kalo nggak mau jalan kaki, sekali naik bis tiketnya 2,40 euro /orang atau bisa beli tiket 24 jam seharga 5,30euro /orang supaya bisa keliling kota.

How do you solve a problem like Maria?
we solved the problem by
ngisi lambung dulu sebelum jalan kaki keliling Salzburg
Menurut Okta, Salzburg terbagi dua, dipisahkan oleh sungai Salzach yang membelah kotanya. Altstadt (Old town/Kota tua) dan Salzburg modern. Kita hanya akan menyusuri kota tuanya. 

Dari peta yang dikasih sama bagian informasi di stasiun, ada promo paket-paket tour The Sound of Music. Harganya variatif, mulai dari 20-70 Euro. Tour ini akan menyambangi tempat-tempat pengambilan gambar film kenamaan itu. Mulai dari gereja Nonnberg Abbey tempat Maria lari-lari karena terlambat dateng ke chapel pas di awal film,  Istana Leopeoldskorn tempat kediaman keluarga Von Trapp; adegan waktu Maria dan anak-anak naik perahu di danau trus kecebur, Mirabell Gartens; tempat mereka nyanyi lagu do-re-mi yang terkenal banget itu, sampe ke Mondsee Cathedral tempat Maria dan Baron von Trapp akhirnya menikah. Sounds good, eh?


Tour The Sound of Music, foto courtesy ini

Sempet tertarik juga ikutan tour, tapi durasi tour yang makan waktu sampe 4 jam bikin kita males, mending nyari sendiri aja..jalan kaki santai. Walaupun paham, nggak bakal semua tempat-tempat itu bisa kita kunjungin.

Setelah kenyang ngisi perut, peta berkata tujuan yang paling deket adalah Mirabell Gartens. 
So here we are:
That'll bring us back to Doe!

Yah, kira-kira beginilah kalo adegan di filmya :D
fotonya dari sini

 Mirabell Gartens ini besaaar dan luaas banget.. nyatu sama Mirabell Palace juga.

Air mancur dan patung kuda terbang yang juga ada di filmnya.

"Aku eksyen pegang bunga,yah!"

Background yang jauuuuh di belakang kita itu namanya Hohensalzburg Fortess (Festung)
dan kita akan ke sana--jalan kaki :))
Dari Mirabell Garten yang cantik ini, terlihatlah sebuah istana di puncak gunung. Napsu banget pengen ke sana. Petunjuk dari ibu-ibu di tourist information stasiun kereta tadi juga bilang itu istana adalah tujuan wisata nomer satu di Salzburg. Jalan deh kita, nyebrangin sungai besar yang membelah kota, Sungai Salzach.


Di jembatan Sungai Salzach
Jembatan ini juga penuh gembok-gembok cinta kaya di Perancis :)
Sampai di seberang sungai, artinya kita udah nyampe di kota tua. Sepanjang jalan yang kita lewatin untuk menuju ke Festung adalah objek wisata, termasuk diantaranya tempat tinggal musisi Mozart dan rumah tempat kelahirannya. Tapi kita nggak masuk ya, cuma lewat-lewat doang.
Mozart Geburtshaus (rumah kelahiran musisi Mozart)
Coklat Mozart, dijual di sepanjang jalanan di Salzburg.
Kalo di Sumedang mirip-mirip deh kaya yang jualan tahu, tiap 50 meter ada.  



Salzburg street art


Semangaaat! Dikit lagi nyampe ataaas.. (padahal masih jauh)
Di kaki bukit yang menanjak, kita ketemu stasiun kereta namanya Festungbahn. Ternyata ini kereta kheuseus buat naik ke istana di puncak sana. Semacam jalan pintas. Karena si nona Dharma ketiduran di stroller, kita tadinya mau jalan kaki aja sampe atas istana. Apa daya, ternyata jalanannya nanjak super curam. Pasti butuh waktu lama banget buat kita bisa nyampe puncak, walaupun pemandangan sepanjang tracknya keren banget-banget (tapi udah kebayang ngos-ngosannya manjat tebing :p)


Sok-sokan mau naik ke Festung jalan kaki

Ada yang pules di stroller
And we took the shortcut. Tiket Festungbahn harganya 11,30 Euro PP. Harga segitu udah termasuk tiket tour ke ruangan-ruangan di dalem istana (galeri, torture chamber, watchtower, battlements dan the Salzburg Bull organ), juga kunjungan ke Regency Chambers, Fortress Museum dan Marionette Museum. Dengan tiket yang sama kita juga bisa liat pemutaran film (multivision show) tentang gereja Roma di abad 11.

Inilah penampakan Festungbahn
image dari sini
Naik Festungbahn adalah keputusan yang tepat! Itu jalur keretanya emang cuma 'hampir' 200 meter aja, tapi tingginyaaaa..99meter! ya salaaaaaam, apa kabar kalo tadi jalan kaki? Naik beginian kita cuma butuh waktu semenit doang untuk nyampe puncaknya. Nyiahahaha.. buat pelajaran lain kali yaah, travelling boleh low budget tapi kalo yang modelnya begini ngga ada excuse deh :))

Dan inilah pemandangan kota Salzburg dilihat dari atas Festung Hohensalzburg. Very very veryyyy stunning!! Ngga sadar, pelupuk mata saya tergenang air. Terharuuu sampai berkaca-kaca ngeliat pemandangan yang subhanallah... simply, breath taking. Cantiknya Salzburg. Semua bangunan-bangunan kuno masih bertahan seperti bentuk aslinya. Rapi, bersih, bener-bener kerasa kaya balik lagi ke jaman dulu.


Pemandangan kota Salzburg dari atas Festung. Beautiful pol!
Udah nyampe atas sini ya mulailah kita manfaatin tiket-tiket masuk tadi. Untuk keliling Regency Chambers kita dikasi audioguide. Jadi kita jalan-jalan sambil denger rekaman tour guide ngomong ngejelasin satu-satu apa-apaan aja yang kita liat.


Audioguide
Halo? Pak satpam??
Ruang siksa, the chamber of torture
Di atas watch tower
Salzburg Bull Organ (alat musik, bukan organ tubuh)
Salzburg Bull Organ ini unik banget deh. Jadi, ini adalah alat musik organ (yes, as in organ tunggal) mekanis jenis aerophone (yang menggunakan udara untuk mengeluarkan suara) yang terdiri dari 200 buah pipa (kebayang gedenya ya). Kalo pas jalan-jalan di Eropa trus nemu pengamen yang bawa kotak segede speaker dikalungin di leher, trus kerjaan dia cuma muter-muterin engkol tapi keluar suara musik yang bagus banget, ya ini organ sejenis itu deh. Alhamdulillah kalo kebayang, kalo nggak kebayang boleh gugling :D

Keluar dari ruangan-ruangan istana, papipu nemu mesin souvenir. Yak mari kita norak-norak bergembira. Masukin uang 1 Euro dan 5 cent, engkol 10x dan voila! koin 5 cent berubah jadi souvenir. 


Puteeerr maang!

Sebelum pulang karena istana juga udah mau tutup, kita nyempetin masuk ke Marionette Museum. Ternyata ini adalah museum boneka dan tempat pertunjukan teater boneka. Terus terang, saya sih takut liat boneka-bonekanya, hahaha.. ruangan museumnya juga gelap, mistis gitu. Nggak lama-lama disitu, kita langsung cabs karena mesti turun gunung, jalan kaki lagi ke stasiun, dan ngejer-ngejer kereta lagi untuk balik ke Vienna.. 

Ngga bisa foto barengan, ngga bisa pake tongsis, akhirnya harus gantian :))


Alhamdulillah yaa, pas pulang bisa jajan nudeln (pasta) dulu di tukang doenner.
Duduk manis di gerbong keluarga, trus kita piknik deeh..

Ciao Salzburg!

Tuesday, May 13, 2014

Keliling Wina (Austria trip, part IV)

Ini 1 Mei. Hari Buruh Internasional. Kota Wina seperti juga beberapa kota lain di dunia, libur. Habis acara tiup lilin, kami pun bersiap mandi untuk melihat cantiknya kota Wina. Disini dingin, sebetulnya kami jarang mandi, tapi kali ini mandi menjadi penting karena kita nggak mau hasil foto-fotonya jadi jomplang, secara bekgron kece tapi modelnya butut :p

Berbeda dengan perayan Hari Buruh di Tanah Air yang diwarnai demo, buruh-buruh di Wina malah pawai. Ada yang bawa kuda. naik kereta, bahkan sampe pamer motor gede segala. Semua iring-iringan kendaraan pawai berakhir di Rathaus (balai kota). Di sana udah siap panggung besar dan mungkin acara keriaan lainnya.


Pawai Mayday di Wina. Itu yg lagi ulangtaon cemberut aja, neng?



Balai Kota Wina


Ada nenek-nenek baik hati yang motoin kita bertiga di depan Rathaus :)


Cuss, biar cepet kita ngga lama-lama di Rathaus. Mendekatpun nggak, padahal kalo liat di website-website, arsitektur bangunan Rathaus ini keren banget loh. Tapi semakin mendekat ke panggung artinya semakin hingar bingar. So, stralahyaaa..

Cuaca cerah banget, jadi kita jalan kaki aja keliling kotanya. Kebetulan tempat-tempat menariknya deket-deketan. Karena Okta harus kerja, kita dibekelin peta kecil sama list tempat-tempat oke buat dikunjungin. Ini judulnya turis mandiri. 

Tujuan pertama, si papipu ngajak popotoan di Universitas Wina. Eh, ini salah satu lokasi syuting film 99 cahaya itu kan ya? Di film lebih keliatan jelas bagusnya, lorong-lorong di dalem gedungnya. Kita cuma numpang mejeng di depannya aja. Kita? si papih doang kalee.


Mejeng heula..



Next, Gedung Teater Wina, namanya KK Hofburg. Ini teater sebenernya sebrang-sebrangan sama Rathaus, makanya ngga bisa ngambil gambarnya dengan jelas karena lokasinya masih penuh orang. Nggak masuk ke dalem jugak, karena hari keburu siang kita mau jalan terus sambil cari makan sebelum si birthday girl cranky karena kelaperan.
KK Hofburg

nah, kira-kira begini bentuknya KK Hofburgh itu. Fotonya nyomot dari sini

Dalam bahasa jerman, Austria disebut dengan Oesterreich yang artinya "Eastern Empire". Jadii jangan heran kalo di Austria banyak bangeet istana, benteng, kastil dan gedung-gedung jadul yang kece-kece.. saya sih bukan pengamat arsitektur, ngga ngerti sama sekali malah. Dan walaupun yang dibilang cantik itu relatif, tapi yang namanya mahakarya akan terlihat jelas keindahannya. (tsah!)

Berikutnya, kita nyebrangin volksgarten. sebuah taman kota yang ternyata nganterin kita ke Istana Hofburg. Sepanjang sejarahnya, Hofburg adalah istana yang sudah ditempati oleh penguasa-penguasa Austria sejak jaman dahulu kala sampai saat ini. Sekarang Istana Hofburg dipake sebagai gedung parlemen dan kediaman Presiden Austria. Waktu jamannya dinasti Habsburg berkuasa, istana ini cuma ditempatin pas musim dingin. Sementara kalo musim panas mereka pindah ke Schloss Schoenbrunn. Sejak berabad-abad lalu, Istana Hofburg mengalami beberapa kali perluasan sehingga fungsinya tidak lagi hanya sebagai kediaman penguasa, tapi juga kapel, museum, bahkan perpustakaan nasional. Jaaadiii, silakan dibayangkan total luas area istana ini sekarang kira-kira 500.000m2 dengan 19 taman dan 2.600 ruangan saja.

tongsis mana... tongsiss?!




Udah capek? mudah-mudahan belom, ya. Kagok nih, baru setengah jalan :D 
Dari sini kita obsessed banget pengen liat gereja katolik paling ternama se-Vienna. Namanya Stephensdom. Berhubung kita turis yang buta arah, sempet nyasar juga jalan kakinya malah ngejauh dari si gereja kenamaan itu. Tapi nggak turis namanya dong kalo gak pake nyasar :p #pembelaan

Nyasar, nggak tau ini gedung apa namanya. 
Tadinya kita pikir ini national library ternyata bukan.

Setelah nanya-nanya orang dan nyempetin jajan Doenner, kita lanjutin nyari Stephensdom.

Ini sebagian pemandangan ciamik dalam perjalanan kita nyari gereja nomer satu se-Vienna.

Dan akhirnya keliatan juga itu menaranya...


Tadaaaaa... inilah dia, Stephensdom!! keren bangeeeeeeeeet yaa.


Dalam bahasa Inggris, sebutannya St. Stephen's Cathedral. Gereja ini adalah ibu dari Gereja-gereja Roma keuskupan Wina. Gereja ini menjadi saksi berbagai peristiwa penting yang terjadi di Vienna. Diantaranya,upacara pernikahan dan pemakaman musisi ternama Mozart. Upacara pemakaman Vivaldi juga kabarnya dilakukan disini. 

Ciri khas Stephensdom adalah atap keramik berwarna-warninya. Genteng cantik dengan motif diamond adalah hasil sumbangan para warga Vienna di tahun 1950, saat itu gereja kesayangan mereka ini rusak akibat pengepungan bangsa Turki di akhir perang dunia II.

Kalo mau liat betapa stunning interior di dalem Stephensdom ini, silakan ke sini.

with dearie dottie @ Stephensdom
Ok, sekarang kita cabs ke tempat terakhir hari ini. Setelah mengisi perut dan jajan gelato pinggir jalan, kita berangkat ke Schloss Schoenbrunn naik trem. Seperti yang udah disebutin di atas, Istana tujuan kita kali ini adalah istana musim panas waktu dinasti Habsburg berkuasa. Sejak monarki Habsburg runtuh, kepemilikan istana diserahkan pada Republik Austria. Untuk bisa masuk liat dalemnya, kita harus bayar. Tiketnya macem-macem, tentu kalo rame-rame jatohnya jadi lebih murah.
sumbernya dari sini

Yang bikin sedih, saya kehilangan kacamata item di toileeeeet (toilet istana? bukan. Toilet loket tiket). Yaksip, cuaca di hari ulangtahunnya si neneng bener-bener cerah luar biasa (baca: terik) dan saya kehilangan kacamata item. Terima kasih ya Allah, ini artinya saya harus beli kacamata baru yaaa.. #ngarep (okei, OOT kejauhan)

Kesilauaan difoto menantang matahari
selfie berdua aja,pake tongsis
Lalu kita jalan muter ke belakang istana. Jreeeeeng.. di halaman belakang istananya ada halaman yang buesaaar dan cantiiiik banget, namanya The Great Parterre. Seluruh taman di istana ini didesain sedemikian rupa dengan motif-motif besutan seniman yang kalo diliat dari ketinggian menyerupai hamparan karpet warna-warni. 

Lihat backgroundnya deh, jauuuh di belakang kita itu ada bangunan, namanya Gloriette.
Namanya juga istana, pastinya guede banget dong yes. (Iya, kalo kecil namanya gubug derita dong,ah..) kita (atau saya?) udah lumayan capek banget jalan-jalan pleus terpapar sinar matahari nan menclang. Tapi istana ini kece bangeeet sodara-sodaraaa.. entah ada berapa belas taman, patung-patung, air mancur, bahkan kebon binatang, ada semua disini! Bahkan, salah satu sayap istana adalah tempat rutin pementasan karya-karya Mozart dan sejumlah musisi kenamaan lainnya.

Kaki udah pegeeel, matahari lagi semangat banget sinarnya, nona Dharma juga udah mulai cranky tapi kekeuh menolak tidur di stroller. Dia memutuskan untuk turun dari stroller dan memilih lari-larian di halaman istana buat ngusir kantuknya. Ujung-ujungnya ngejoprak, metikin bunga sama mungutin batu.
 
Keren dong, main ngejoprak di halaman istana. Batu-batu ini persis banget sama yang ada di playground sekolahan dia, jadilah dipikir ini tempat main gede banget yaaaa... haha

Metikin bunga liar, padahal nginjek rumput aja ga boleh :(
Gak papa deeeh, namanya juga lagi ulangtahuuun.. bebaaas

Di Neptune Fountain kita stop sebentar ngelurusin kaki sambil ngadem deket aer. Menimbang-nimbang mau naik bukit sampe ke atas Gloriette apa nggak. Dan akhirnya memutuskan nggak, karena saya s u d a h  c a p e k banget :( huhuhuuu... mestinya nyiapin waktu dua hari dua malem buat ngejelajahin seluruh sudut istana ini.

Neptune Fountain, letaknya diantara Istana dan Gloriette.

Neptune Fountain dengan latar belakang Gloriette
Nyomot dari sini

Gloriette ini semacam gerbang kemenangan. Dulunya waktu masa-masa perang, dari atas bukit inilah para panglima bisa liat musuh yang dateng. Konon kabarnya, kalo kita berdiri di Gloriette ini kita bisa liat seluruh kota Vienna. Penasaran, kan? iya, saya juga. Jadi nyesel banget kenapa nggak naik sampe ke sana. 

Udah dulu kali tour de Vienna-nya yaa.. 
Sebelum dadah-dadah, ada satu trivia lagi tentang Schloss Schoenbrunn. Taman Labirinnya pernah dipake buat episode ke 6 The Amazing Race season 23. Dan pit stopnya berakhir di Gloriette :)

Akhirnya, kita pun pulang dengan dorong stroller berisikan birthday-girl yang pules banget tidur. Sebelum tidur dia sempet berpesan kalo batu-batu yang tadi dia pungutin nggak boleh dibuang. Jadi, lumayan deh strollernya nambah berat lima kilo.

Friday, May 16, 2014

Salzburg (Austria trip part V, tamat)

2 Mei.  
Dari Erfurt memang kita udah rencanain untuk ngeluangin satu hari untuk berkunjung ke Salzburg. Mumpung ke Austria, kapan lagi bisa liat kota yang melatarbelakangi film The Sound of Music? Okta juga udah ngasih briefing pas malemnya, gimana caranya kita bisa sampe ke sana. 

Pagi itu kita bangun tidurnya kesiangan (agaaaiiin???!) bahkan Okta pun udah berangkat kerja. Wkwkwk, tamu macam apa ini, pemalas semua :))

Untuk ke Salzburg, kita perlu naik kereta dari stasiun West Bahnhof. Begitu sampe di halte trem, waktu udah nunjukin jam setengah 10, sempet shock berat karena tremnya puenuuuh banget. Heiyyalaah, ini  kan hari kerja. Tapi kita nggak punya pilihan, kereta Westbahn menuju Salzburg akan berangkat 20 menit lagi, kalo telat artinya kita mesti nunggu kereta berikutnya yang berangkat 1 jam kemudian. Ya salam, deg-degan banget.

Nyampe West Bahnhof kita masih clingak-clinguk. Kereta berangkat tiga menit lagi. Ini Vienna cuy, bukan Gondangdia. Jangan ngarep delay karena kereta Westbahn udah paling terkenal on time se-Vienna. Nyari peron, nyari lift (karena bawa stroller), gak nemu lift akhirnya nekat dorong strollernya naik eskalator (padahal ada sticker larangannya *jangan dicontoh ya*)

Saya sempet bingung karena kami belom pegang tiket, tapi Papipu bilang, "Udah gak apa-apa!! Buruan naik keretanya!" udah nggak tau lagi berapa kecepatan kami lari menuju peron hari itu, Sampai di deket kereta, pintunya udah hampir nutup. Bel peringatan kalo kereta mau berangkat sudah bunyi.. "Nit..nit..nit..nit.." 

Saat itu juga jari tangan saya mendarat di tombol pintu kereta yang hampir menutup, 
dan kami berhasil masuk!
Sambil ngos-ngosan. Banget.
Lalu tersenyum lega melihat pintu keretanya menutup di belakang kami. 
YES.

Kereta bergerak, kami baru sadar kalo sejak tadi ternyata seorang ibu kondektur ngeliatin kita bertiga. Dan terjadilah percakapan:

"Kalian mau kemana?"
"Salzburg"
"Gerbong stroller bukan disini" (kereta Westbahn punya gerbong khusus keluarga)
"Iya, kami tau. Kami kan buru-buru"
"Gerbong kelas II disana ya, disini kelas I"
(nahan ketawa)
"Baiklaaaaah, buuuuuuuu...!"

Nyiahahahaha, katingali pisan mereun nya, kalo kita jalan-jalan low budget?
Si ibuu, tau aja kita gak mau bayar tiket kelas I

Kereta Westbahn adalah milik swasta, jadi beli tiket di loket dengan di atas kereta harganya sama. Berbeda dengan Deutsche Bahn yang punya pemerintah, beli tiket di atas kereta harganya jadi lebih mahal dibanding kalo beli sendiri di mesin tiket. Mungkin karena diconsider kita pake tenaga manusia, jadi harus bayar jasa.

Perjalanan Vienna-Salzburg membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam. Harga tiket keretanya 23 Euro untuk sekali jalan /orang. Dharma gratis. Oh ya, perlu diingat untuk selalu bawa passport kemana-mana karena randomly suka ada petugas imigrasi yang pake pakaian layaknya penumpang kereta biasa.


Salzburg here we areee :)
Yang di stroller sampe ngambek ga mau difoto karena lafaaarrr!
Kita turis buta arah :) jadi sebelum keluar stasiun yang pertama dicari adalah peta! Bagusnya, walaupun Salzburg adalah kota terbesar ke-4 di Austria (setelah Vienna, Graz dan Linz) tapi kotanya nggak besar-besar amat, jadi masih bisa kemana-mana jalan kaki. Iyes, selama di Salzburg kita sama sekali ngga naik bis ataupun O-bus (bis yang pake jalur kabel elektronik kaya trem). Tapi kalo nggak mau jalan kaki, sekali naik bis tiketnya 2,40 euro /orang atau bisa beli tiket 24 jam seharga 5,30euro /orang supaya bisa keliling kota.

How do you solve a problem like Maria?
we solved the problem by
ngisi lambung dulu sebelum jalan kaki keliling Salzburg
Menurut Okta, Salzburg terbagi dua, dipisahkan oleh sungai Salzach yang membelah kotanya. Altstadt (Old town/Kota tua) dan Salzburg modern. Kita hanya akan menyusuri kota tuanya. 

Dari peta yang dikasih sama bagian informasi di stasiun, ada promo paket-paket tour The Sound of Music. Harganya variatif, mulai dari 20-70 Euro. Tour ini akan menyambangi tempat-tempat pengambilan gambar film kenamaan itu. Mulai dari gereja Nonnberg Abbey tempat Maria lari-lari karena terlambat dateng ke chapel pas di awal film,  Istana Leopeoldskorn tempat kediaman keluarga Von Trapp; adegan waktu Maria dan anak-anak naik perahu di danau trus kecebur, Mirabell Gartens; tempat mereka nyanyi lagu do-re-mi yang terkenal banget itu, sampe ke Mondsee Cathedral tempat Maria dan Baron von Trapp akhirnya menikah. Sounds good, eh?


Tour The Sound of Music, foto courtesy ini

Sempet tertarik juga ikutan tour, tapi durasi tour yang makan waktu sampe 4 jam bikin kita males, mending nyari sendiri aja..jalan kaki santai. Walaupun paham, nggak bakal semua tempat-tempat itu bisa kita kunjungin.

Setelah kenyang ngisi perut, peta berkata tujuan yang paling deket adalah Mirabell Gartens. 
So here we are:
That'll bring us back to Doe!

Yah, kira-kira beginilah kalo adegan di filmya :D
fotonya dari sini

 Mirabell Gartens ini besaaar dan luaas banget.. nyatu sama Mirabell Palace juga.

Air mancur dan patung kuda terbang yang juga ada di filmnya.

"Aku eksyen pegang bunga,yah!"

Background yang jauuuuh di belakang kita itu namanya Hohensalzburg Fortess (Festung)
dan kita akan ke sana--jalan kaki :))
Dari Mirabell Garten yang cantik ini, terlihatlah sebuah istana di puncak gunung. Napsu banget pengen ke sana. Petunjuk dari ibu-ibu di tourist information stasiun kereta tadi juga bilang itu istana adalah tujuan wisata nomer satu di Salzburg. Jalan deh kita, nyebrangin sungai besar yang membelah kota, Sungai Salzach.


Di jembatan Sungai Salzach
Jembatan ini juga penuh gembok-gembok cinta kaya di Perancis :)
Sampai di seberang sungai, artinya kita udah nyampe di kota tua. Sepanjang jalan yang kita lewatin untuk menuju ke Festung adalah objek wisata, termasuk diantaranya tempat tinggal musisi Mozart dan rumah tempat kelahirannya. Tapi kita nggak masuk ya, cuma lewat-lewat doang.
Mozart Geburtshaus (rumah kelahiran musisi Mozart)
Coklat Mozart, dijual di sepanjang jalanan di Salzburg.
Kalo di Sumedang mirip-mirip deh kaya yang jualan tahu, tiap 50 meter ada.  



Salzburg street art


Semangaaat! Dikit lagi nyampe ataaas.. (padahal masih jauh)
Di kaki bukit yang menanjak, kita ketemu stasiun kereta namanya Festungbahn. Ternyata ini kereta kheuseus buat naik ke istana di puncak sana. Semacam jalan pintas. Karena si nona Dharma ketiduran di stroller, kita tadinya mau jalan kaki aja sampe atas istana. Apa daya, ternyata jalanannya nanjak super curam. Pasti butuh waktu lama banget buat kita bisa nyampe puncak, walaupun pemandangan sepanjang tracknya keren banget-banget (tapi udah kebayang ngos-ngosannya manjat tebing :p)


Sok-sokan mau naik ke Festung jalan kaki

Ada yang pules di stroller
And we took the shortcut. Tiket Festungbahn harganya 11,30 Euro PP. Harga segitu udah termasuk tiket tour ke ruangan-ruangan di dalem istana (galeri, torture chamber, watchtower, battlements dan the Salzburg Bull organ), juga kunjungan ke Regency Chambers, Fortress Museum dan Marionette Museum. Dengan tiket yang sama kita juga bisa liat pemutaran film (multivision show) tentang gereja Roma di abad 11.

Inilah penampakan Festungbahn
image dari sini
Naik Festungbahn adalah keputusan yang tepat! Itu jalur keretanya emang cuma 'hampir' 200 meter aja, tapi tingginyaaaa..99meter! ya salaaaaaam, apa kabar kalo tadi jalan kaki? Naik beginian kita cuma butuh waktu semenit doang untuk nyampe puncaknya. Nyiahahaha.. buat pelajaran lain kali yaah, travelling boleh low budget tapi kalo yang modelnya begini ngga ada excuse deh :))

Dan inilah pemandangan kota Salzburg dilihat dari atas Festung Hohensalzburg. Very very veryyyy stunning!! Ngga sadar, pelupuk mata saya tergenang air. Terharuuu sampai berkaca-kaca ngeliat pemandangan yang subhanallah... simply, breath taking. Cantiknya Salzburg. Semua bangunan-bangunan kuno masih bertahan seperti bentuk aslinya. Rapi, bersih, bener-bener kerasa kaya balik lagi ke jaman dulu.


Pemandangan kota Salzburg dari atas Festung. Beautiful pol!
Udah nyampe atas sini ya mulailah kita manfaatin tiket-tiket masuk tadi. Untuk keliling Regency Chambers kita dikasi audioguide. Jadi kita jalan-jalan sambil denger rekaman tour guide ngomong ngejelasin satu-satu apa-apaan aja yang kita liat.


Audioguide
Halo? Pak satpam??
Ruang siksa, the chamber of torture
Di atas watch tower
Salzburg Bull Organ (alat musik, bukan organ tubuh)
Salzburg Bull Organ ini unik banget deh. Jadi, ini adalah alat musik organ (yes, as in organ tunggal) mekanis jenis aerophone (yang menggunakan udara untuk mengeluarkan suara) yang terdiri dari 200 buah pipa (kebayang gedenya ya). Kalo pas jalan-jalan di Eropa trus nemu pengamen yang bawa kotak segede speaker dikalungin di leher, trus kerjaan dia cuma muter-muterin engkol tapi keluar suara musik yang bagus banget, ya ini organ sejenis itu deh. Alhamdulillah kalo kebayang, kalo nggak kebayang boleh gugling :D

Keluar dari ruangan-ruangan istana, papipu nemu mesin souvenir. Yak mari kita norak-norak bergembira. Masukin uang 1 Euro dan 5 cent, engkol 10x dan voila! koin 5 cent berubah jadi souvenir. 


Puteeerr maang!

Sebelum pulang karena istana juga udah mau tutup, kita nyempetin masuk ke Marionette Museum. Ternyata ini adalah museum boneka dan tempat pertunjukan teater boneka. Terus terang, saya sih takut liat boneka-bonekanya, hahaha.. ruangan museumnya juga gelap, mistis gitu. Nggak lama-lama disitu, kita langsung cabs karena mesti turun gunung, jalan kaki lagi ke stasiun, dan ngejer-ngejer kereta lagi untuk balik ke Vienna.. 

Ngga bisa foto barengan, ngga bisa pake tongsis, akhirnya harus gantian :))


Alhamdulillah yaa, pas pulang bisa jajan nudeln (pasta) dulu di tukang doenner.
Duduk manis di gerbong keluarga, trus kita piknik deeh..

Ciao Salzburg!

Tuesday, May 13, 2014

Keliling Wina (Austria trip, part IV)

Ini 1 Mei. Hari Buruh Internasional. Kota Wina seperti juga beberapa kota lain di dunia, libur. Habis acara tiup lilin, kami pun bersiap mandi untuk melihat cantiknya kota Wina. Disini dingin, sebetulnya kami jarang mandi, tapi kali ini mandi menjadi penting karena kita nggak mau hasil foto-fotonya jadi jomplang, secara bekgron kece tapi modelnya butut :p

Berbeda dengan perayan Hari Buruh di Tanah Air yang diwarnai demo, buruh-buruh di Wina malah pawai. Ada yang bawa kuda. naik kereta, bahkan sampe pamer motor gede segala. Semua iring-iringan kendaraan pawai berakhir di Rathaus (balai kota). Di sana udah siap panggung besar dan mungkin acara keriaan lainnya.


Pawai Mayday di Wina. Itu yg lagi ulangtaon cemberut aja, neng?



Balai Kota Wina


Ada nenek-nenek baik hati yang motoin kita bertiga di depan Rathaus :)


Cuss, biar cepet kita ngga lama-lama di Rathaus. Mendekatpun nggak, padahal kalo liat di website-website, arsitektur bangunan Rathaus ini keren banget loh. Tapi semakin mendekat ke panggung artinya semakin hingar bingar. So, stralahyaaa..

Cuaca cerah banget, jadi kita jalan kaki aja keliling kotanya. Kebetulan tempat-tempat menariknya deket-deketan. Karena Okta harus kerja, kita dibekelin peta kecil sama list tempat-tempat oke buat dikunjungin. Ini judulnya turis mandiri. 

Tujuan pertama, si papipu ngajak popotoan di Universitas Wina. Eh, ini salah satu lokasi syuting film 99 cahaya itu kan ya? Di film lebih keliatan jelas bagusnya, lorong-lorong di dalem gedungnya. Kita cuma numpang mejeng di depannya aja. Kita? si papih doang kalee.


Mejeng heula..



Next, Gedung Teater Wina, namanya KK Hofburg. Ini teater sebenernya sebrang-sebrangan sama Rathaus, makanya ngga bisa ngambil gambarnya dengan jelas karena lokasinya masih penuh orang. Nggak masuk ke dalem jugak, karena hari keburu siang kita mau jalan terus sambil cari makan sebelum si birthday girl cranky karena kelaperan.
KK Hofburg

nah, kira-kira begini bentuknya KK Hofburgh itu. Fotonya nyomot dari sini

Dalam bahasa jerman, Austria disebut dengan Oesterreich yang artinya "Eastern Empire". Jadii jangan heran kalo di Austria banyak bangeet istana, benteng, kastil dan gedung-gedung jadul yang kece-kece.. saya sih bukan pengamat arsitektur, ngga ngerti sama sekali malah. Dan walaupun yang dibilang cantik itu relatif, tapi yang namanya mahakarya akan terlihat jelas keindahannya. (tsah!)

Berikutnya, kita nyebrangin volksgarten. sebuah taman kota yang ternyata nganterin kita ke Istana Hofburg. Sepanjang sejarahnya, Hofburg adalah istana yang sudah ditempati oleh penguasa-penguasa Austria sejak jaman dahulu kala sampai saat ini. Sekarang Istana Hofburg dipake sebagai gedung parlemen dan kediaman Presiden Austria. Waktu jamannya dinasti Habsburg berkuasa, istana ini cuma ditempatin pas musim dingin. Sementara kalo musim panas mereka pindah ke Schloss Schoenbrunn. Sejak berabad-abad lalu, Istana Hofburg mengalami beberapa kali perluasan sehingga fungsinya tidak lagi hanya sebagai kediaman penguasa, tapi juga kapel, museum, bahkan perpustakaan nasional. Jaaadiii, silakan dibayangkan total luas area istana ini sekarang kira-kira 500.000m2 dengan 19 taman dan 2.600 ruangan saja.

tongsis mana... tongsiss?!




Udah capek? mudah-mudahan belom, ya. Kagok nih, baru setengah jalan :D 
Dari sini kita obsessed banget pengen liat gereja katolik paling ternama se-Vienna. Namanya Stephensdom. Berhubung kita turis yang buta arah, sempet nyasar juga jalan kakinya malah ngejauh dari si gereja kenamaan itu. Tapi nggak turis namanya dong kalo gak pake nyasar :p #pembelaan

Nyasar, nggak tau ini gedung apa namanya. 
Tadinya kita pikir ini national library ternyata bukan.

Setelah nanya-nanya orang dan nyempetin jajan Doenner, kita lanjutin nyari Stephensdom.

Ini sebagian pemandangan ciamik dalam perjalanan kita nyari gereja nomer satu se-Vienna.

Dan akhirnya keliatan juga itu menaranya...


Tadaaaaa... inilah dia, Stephensdom!! keren bangeeeeeeeeet yaa.


Dalam bahasa Inggris, sebutannya St. Stephen's Cathedral. Gereja ini adalah ibu dari Gereja-gereja Roma keuskupan Wina. Gereja ini menjadi saksi berbagai peristiwa penting yang terjadi di Vienna. Diantaranya,upacara pernikahan dan pemakaman musisi ternama Mozart. Upacara pemakaman Vivaldi juga kabarnya dilakukan disini. 

Ciri khas Stephensdom adalah atap keramik berwarna-warninya. Genteng cantik dengan motif diamond adalah hasil sumbangan para warga Vienna di tahun 1950, saat itu gereja kesayangan mereka ini rusak akibat pengepungan bangsa Turki di akhir perang dunia II.

Kalo mau liat betapa stunning interior di dalem Stephensdom ini, silakan ke sini.

with dearie dottie @ Stephensdom
Ok, sekarang kita cabs ke tempat terakhir hari ini. Setelah mengisi perut dan jajan gelato pinggir jalan, kita berangkat ke Schloss Schoenbrunn naik trem. Seperti yang udah disebutin di atas, Istana tujuan kita kali ini adalah istana musim panas waktu dinasti Habsburg berkuasa. Sejak monarki Habsburg runtuh, kepemilikan istana diserahkan pada Republik Austria. Untuk bisa masuk liat dalemnya, kita harus bayar. Tiketnya macem-macem, tentu kalo rame-rame jatohnya jadi lebih murah.
sumbernya dari sini

Yang bikin sedih, saya kehilangan kacamata item di toileeeeet (toilet istana? bukan. Toilet loket tiket). Yaksip, cuaca di hari ulangtahunnya si neneng bener-bener cerah luar biasa (baca: terik) dan saya kehilangan kacamata item. Terima kasih ya Allah, ini artinya saya harus beli kacamata baru yaaa.. #ngarep (okei, OOT kejauhan)

Kesilauaan difoto menantang matahari
selfie berdua aja,pake tongsis
Lalu kita jalan muter ke belakang istana. Jreeeeeng.. di halaman belakang istananya ada halaman yang buesaaar dan cantiiiik banget, namanya The Great Parterre. Seluruh taman di istana ini didesain sedemikian rupa dengan motif-motif besutan seniman yang kalo diliat dari ketinggian menyerupai hamparan karpet warna-warni. 

Lihat backgroundnya deh, jauuuh di belakang kita itu ada bangunan, namanya Gloriette.
Namanya juga istana, pastinya guede banget dong yes. (Iya, kalo kecil namanya gubug derita dong,ah..) kita (atau saya?) udah lumayan capek banget jalan-jalan pleus terpapar sinar matahari nan menclang. Tapi istana ini kece bangeeet sodara-sodaraaa.. entah ada berapa belas taman, patung-patung, air mancur, bahkan kebon binatang, ada semua disini! Bahkan, salah satu sayap istana adalah tempat rutin pementasan karya-karya Mozart dan sejumlah musisi kenamaan lainnya.

Kaki udah pegeeel, matahari lagi semangat banget sinarnya, nona Dharma juga udah mulai cranky tapi kekeuh menolak tidur di stroller. Dia memutuskan untuk turun dari stroller dan memilih lari-larian di halaman istana buat ngusir kantuknya. Ujung-ujungnya ngejoprak, metikin bunga sama mungutin batu.
 
Keren dong, main ngejoprak di halaman istana. Batu-batu ini persis banget sama yang ada di playground sekolahan dia, jadilah dipikir ini tempat main gede banget yaaaa... haha

Metikin bunga liar, padahal nginjek rumput aja ga boleh :(
Gak papa deeeh, namanya juga lagi ulangtahuuun.. bebaaas

Di Neptune Fountain kita stop sebentar ngelurusin kaki sambil ngadem deket aer. Menimbang-nimbang mau naik bukit sampe ke atas Gloriette apa nggak. Dan akhirnya memutuskan nggak, karena saya s u d a h  c a p e k banget :( huhuhuuu... mestinya nyiapin waktu dua hari dua malem buat ngejelajahin seluruh sudut istana ini.

Neptune Fountain, letaknya diantara Istana dan Gloriette.

Neptune Fountain dengan latar belakang Gloriette
Nyomot dari sini

Gloriette ini semacam gerbang kemenangan. Dulunya waktu masa-masa perang, dari atas bukit inilah para panglima bisa liat musuh yang dateng. Konon kabarnya, kalo kita berdiri di Gloriette ini kita bisa liat seluruh kota Vienna. Penasaran, kan? iya, saya juga. Jadi nyesel banget kenapa nggak naik sampe ke sana. 

Udah dulu kali tour de Vienna-nya yaa.. 
Sebelum dadah-dadah, ada satu trivia lagi tentang Schloss Schoenbrunn. Taman Labirinnya pernah dipake buat episode ke 6 The Amazing Race season 23. Dan pit stopnya berakhir di Gloriette :)

Akhirnya, kita pun pulang dengan dorong stroller berisikan birthday-girl yang pules banget tidur. Sebelum tidur dia sempet berpesan kalo batu-batu yang tadi dia pungutin nggak boleh dibuang. Jadi, lumayan deh strollernya nambah berat lima kilo.