Pages

Sunday, June 29, 2014

Berhijab di Erfurt

Pernah terjadi percakapan melalui BBM:

"Elo sekarang pake jilbab?"
"InsyaAllah." jawab saya.
"Permanen? yakin?"
"Yakinlah! kenapa gitu?"
"Kan elo mau ke Jerman? emang ngga bakal nyusahin?"

Kesusahan seperti apa ya, yang dikhawatirkan temen saya itu? 
Yang ada di kepala saya waktu itu cuma "kalo niat saya baik, Tuhan pasti bantu. InsyaAllah, no problemo."

Dan disinilah saya sekarang.
Bisa masuk Jerman tanpa masalah, sejak dari pengurusan dokumen sampe settle berkehidupan disini. Ngga ada yang perlu dikhawatirkan sama sekali. Justru dengan mudah saya bisa menemukan saudara-saudara sesama muslim disini, karena jika kami berpapasan tidak sungkan mereka mengucapkan, 'Assalamualaikum'.

Senang sekali rasanya. Baru disini saya merasakan sesama muslim yang tidak saling mengenal saling mengucapkan salam. Sepele memang, tapi terasa spesial. Mungkin, jadi tumbuh rasa persaudaraan karena kami kaum minoritas disini. Bukankan mengucapkan salam juga kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya?

Mungkin pengalaman saya tidak sama dengan yang dirasakan saudara-saudara sesama muslim di kota lain di Jerman atau di negara lain di Eropa. Seperti yang dilukiskan lewat film 99 Cahaya di Langit Eropa; tidak mudah mendapat pekerjaan, ada yang diminta untuk membuka saja hijabnya, dan lain sebagainya. Saya sendiri belum punya pengalaman pribadi soal mencari pekerjaan disini, tapi pernah ada seorang teman yang secara tersirat mengatakan, memang ada diskriminasi untuk seseorang yang mengenakan hijab seperti saya jika ingin bekerja di Erfurt.

Na ja, saya nggak mau berasumsi macem-macem sebelum merasakan sendiri.

Yang menarik dari film 99 Cahaya di Langit Eropa adalah istilah "agen muslim". Sependek yang saya mengerti, mungkin maksudnya setiap pribadi muslim adalah seorang pendakwah, dengan cara apapun di dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa ketika kita disakiti atau dibully, cara elegan seorang muslim adalah tidak membalasnya dengan kekerasan. Bahwa dalam setiap ucapan, perilaku, dan tata cara seorang muslim berinteraksi dengan setiap makhluk Tuhan menjadi sorotan.

Ini menjadi menarik, karena saya jadi kerap harus mengingatkan diri saya sendiri. Hijab saya adalah cara saya mengkomunikasikan pada setiap orang bahwa saya adalah seorang muslimah. Karenanya, setiap muslim yang melihat saya di jalan, pasti mengucapkan salam. Karenanya, saya tidak boleh (lagi) makan dan minum sambil berdiri/berjalan. Karenanya, setiap kesalahan yang saya perbuat bisa-bisa digeneralisasi sebagai kesalahan seluruh muslim lainnya. Dan karenanya, saya harus selalu mengupgrade pengetahuan keislaman saya sehingga ketika orang-orang bertanya, saya bisa menjelaskan betapa indahanya menjadi seorang muslim.

Hal menarik lain adalah, ini kali pertama saya menjadi bagian dari kaum minoritas. Tidak mudah memang, tapi begitu banyak kebaikan dan bantuan yang saya dapatkan justru dari mereka yang non-muslim. Mereka mengerti bahwa saya menganut agama yang berbeda, namun saya tetap diperlakukan layaknya manusia. 

Saya diperlakukan dengan hormat, tidak ada larangan beribadah, tidak ada larangan melakukan apa-apa yang baik menurut agama saya. Mereka sangat respek terhadap pilihan-pilihan hidup seseorang. 
Saya tidak pernah merasa khawatir untuk keluar rumah berkerudung, saya tidak perlu takut anak saya akan diperlakukan berbeda di sekolah hanya karena ibunya seorang muslim yang berhijab. Satu lagi, saya juga tidak perlu merasa cemas mesjid tempat saya beribadah di Erfurt akan dibakar, ditimpuki atau bahkan ditutup paksa oleh kaum mayoritas.

Kehidupan islami (mengucapkan salam, tertib, bersih, jujur, disiplin) justru lebih saya rasakan di sini, di negara minoritas muslim. 
Kehidupan ber-Bhineka Tunggal Ika pun lebih saya rasakan di sini, dimana seluruh umat beragama bebas menjalankan apa yang di yakininya karena mereka paham betul, agama adalah hubungan pribadi manusia dengan Tuhannya.


***


disclaimer:
ini adalah postingan yang tertunda sekian lama.
Tadinya saya ingin menulis tentang muslim di Eropa, tapi sepertinya pengetahuan, pengalaman dan referensi saya terlalu cetek sehingga khawatir malah jadinya menggeneralisasi. Jadi, dipersempit saja lah ya..

No comments:

Post a Comment

Sunday, June 29, 2014

Berhijab di Erfurt

Pernah terjadi percakapan melalui BBM:

"Elo sekarang pake jilbab?"
"InsyaAllah." jawab saya.
"Permanen? yakin?"
"Yakinlah! kenapa gitu?"
"Kan elo mau ke Jerman? emang ngga bakal nyusahin?"

Kesusahan seperti apa ya, yang dikhawatirkan temen saya itu? 
Yang ada di kepala saya waktu itu cuma "kalo niat saya baik, Tuhan pasti bantu. InsyaAllah, no problemo."

Dan disinilah saya sekarang.
Bisa masuk Jerman tanpa masalah, sejak dari pengurusan dokumen sampe settle berkehidupan disini. Ngga ada yang perlu dikhawatirkan sama sekali. Justru dengan mudah saya bisa menemukan saudara-saudara sesama muslim disini, karena jika kami berpapasan tidak sungkan mereka mengucapkan, 'Assalamualaikum'.

Senang sekali rasanya. Baru disini saya merasakan sesama muslim yang tidak saling mengenal saling mengucapkan salam. Sepele memang, tapi terasa spesial. Mungkin, jadi tumbuh rasa persaudaraan karena kami kaum minoritas disini. Bukankan mengucapkan salam juga kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya?

Mungkin pengalaman saya tidak sama dengan yang dirasakan saudara-saudara sesama muslim di kota lain di Jerman atau di negara lain di Eropa. Seperti yang dilukiskan lewat film 99 Cahaya di Langit Eropa; tidak mudah mendapat pekerjaan, ada yang diminta untuk membuka saja hijabnya, dan lain sebagainya. Saya sendiri belum punya pengalaman pribadi soal mencari pekerjaan disini, tapi pernah ada seorang teman yang secara tersirat mengatakan, memang ada diskriminasi untuk seseorang yang mengenakan hijab seperti saya jika ingin bekerja di Erfurt.

Na ja, saya nggak mau berasumsi macem-macem sebelum merasakan sendiri.

Yang menarik dari film 99 Cahaya di Langit Eropa adalah istilah "agen muslim". Sependek yang saya mengerti, mungkin maksudnya setiap pribadi muslim adalah seorang pendakwah, dengan cara apapun di dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa ketika kita disakiti atau dibully, cara elegan seorang muslim adalah tidak membalasnya dengan kekerasan. Bahwa dalam setiap ucapan, perilaku, dan tata cara seorang muslim berinteraksi dengan setiap makhluk Tuhan menjadi sorotan.

Ini menjadi menarik, karena saya jadi kerap harus mengingatkan diri saya sendiri. Hijab saya adalah cara saya mengkomunikasikan pada setiap orang bahwa saya adalah seorang muslimah. Karenanya, setiap muslim yang melihat saya di jalan, pasti mengucapkan salam. Karenanya, saya tidak boleh (lagi) makan dan minum sambil berdiri/berjalan. Karenanya, setiap kesalahan yang saya perbuat bisa-bisa digeneralisasi sebagai kesalahan seluruh muslim lainnya. Dan karenanya, saya harus selalu mengupgrade pengetahuan keislaman saya sehingga ketika orang-orang bertanya, saya bisa menjelaskan betapa indahanya menjadi seorang muslim.

Hal menarik lain adalah, ini kali pertama saya menjadi bagian dari kaum minoritas. Tidak mudah memang, tapi begitu banyak kebaikan dan bantuan yang saya dapatkan justru dari mereka yang non-muslim. Mereka mengerti bahwa saya menganut agama yang berbeda, namun saya tetap diperlakukan layaknya manusia. 

Saya diperlakukan dengan hormat, tidak ada larangan beribadah, tidak ada larangan melakukan apa-apa yang baik menurut agama saya. Mereka sangat respek terhadap pilihan-pilihan hidup seseorang. 
Saya tidak pernah merasa khawatir untuk keluar rumah berkerudung, saya tidak perlu takut anak saya akan diperlakukan berbeda di sekolah hanya karena ibunya seorang muslim yang berhijab. Satu lagi, saya juga tidak perlu merasa cemas mesjid tempat saya beribadah di Erfurt akan dibakar, ditimpuki atau bahkan ditutup paksa oleh kaum mayoritas.

Kehidupan islami (mengucapkan salam, tertib, bersih, jujur, disiplin) justru lebih saya rasakan di sini, di negara minoritas muslim. 
Kehidupan ber-Bhineka Tunggal Ika pun lebih saya rasakan di sini, dimana seluruh umat beragama bebas menjalankan apa yang di yakininya karena mereka paham betul, agama adalah hubungan pribadi manusia dengan Tuhannya.


***


disclaimer:
ini adalah postingan yang tertunda sekian lama.
Tadinya saya ingin menulis tentang muslim di Eropa, tapi sepertinya pengetahuan, pengalaman dan referensi saya terlalu cetek sehingga khawatir malah jadinya menggeneralisasi. Jadi, dipersempit saja lah ya..

0 comments: